Berita terkini

INDONESIA DIANCAM KANKER USUS BESAR

Surabaya, beritasurabaya.net - Banyak anak muda di Indonesia 'diancam' dengan kasus kanker usus besar. Ini terkait dengan gaya hidup, terutama dalam mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dan tidak kaya serat.

Hal ini disampaikan pakar Onkologi senior di Universitas Indonesia dan Yayasan Kanker Indonesia , DR Dr Aru W Sudoyo SpPD KHOM dalam media gathering, Minggu (10/6/2012), di Sheraton Surabaya Hotel & Towers.

Kasus kanker usus besar di Indonesia, kata Aru, lebih dari 30 persen penderitanya berusia di bawah 40 tahun. Sedangkan di Amerika, yang terkena kanker usus besar di bawah usia 40 tahun hanya 3 persen, sebagian besar di atas usia 50 tahun. ''Ini sangat memprihatinkan dan kanker usus besar ini bisa dicegah dan diobati karena pemicu utamanya berkaitan dengan makanan. Untuk bisa menjadi kanker usus besar ini butuh waktu 15 hingga 20 tahun,''ujarnya.

Untuk itu, Aru menyarankan agar masyarakat bisa melakukan deteksi dini ketika mengalami gejala-gejala perubahan pola defekasi (BAB), berak berdarah, sulit buang air besar (BAB), berat badan turun tanpa sebab, keluhan kembung, anemia sehingga tampak pucat. Jika berusia di atas 50 tahun meskipun tanpa gejala-gejala umum, menurut Aru, sebaiknya melakukan endoskopi seperti kolonoskopi dan sigmoidoskopi. Beberapa kasus tanpa gejala bahkan bisa ditemukan melalui metode deteksi dini.

Aru menjelaskan memang ada beberapa hal yang diduga kuat berpotensi menimbulkan kanker usus besar. Yakni, cara diet yang salah (terlalu banyak konsumsi makanan tinggi lemak dan protein, serta rendah serat), obesitas (kegemukan), pernah memiliki polip di usus, jarang melakukan aktivitas fisik, sering terpapar bahan pengawet makanan maupun pewarna yang bukan untuk makanan dan merokok.

''Kurangi konsumsi daging merah yakni daging dari binatang berkaki empat, untuk konsumsi steak jangan sampai daging diproses dengan cara matang sekali (well done) tapi medium saja. Dan kurangi konsumsi makanan cepat saji dimana kita tidak pernah tahu minyak untuk menggoreng sudah berapa kali dipakai. Ingat minyak goreng hanya bisa dipakai 2 kali saja. Lebih dari itu sudah bersifat karsinogenik,''paparnya.

Dari segi keganasan (Karsinoma Kolorektal), Aru mengutip data tahun 2008, bahwa kanker usus besar menempati urutan ketiga setelah kanker paru dan kanker prostat pada pria serta kanker mulut rahim dan kanker payudara pada wanita. Tercatat 608 ribu kematian disebabkan kanker usus besar di seluruh dunia, yang mencapai 8 persen atau setara dengan tingkat kematian keempat terbesar akibat kanker.

Kata Aru, hampir 60 persen dari kasus ini terjadi di negara-negara berkembang. Di Asia, China menempati urutan pertama, kemudian India dan ketiga Indonesia. ''Di Singapura sendiri, kasus kanker usus besar menempati posisi pertama meski pemerintahnya berhasil dengan program dilarang merokok. Namun gaya hidup dan pola makan tidak terkontrol, malah memicu kanker usus besar. Indonesia agaknya sudah mengarah ke sana, mengingat penderita kanker usus besar semakin banyak diderita oleh mereka dengan usia di bawah 40 tahun,''ungkapnya.

Dalam media gathering ini juga dihadirkan dua penderita kanker usus besar. Seperti halnya, Lilik Kuswindarti pensiunan notaris dari Kediri. Pada 2006, dia jalani operasi kanker usus besar dan sudah menjalani 24 kali kemoterapi. Hasilnya, sampai saat ini tidak merasakan gejala kembung dan nyeri di perut seperti sebelum menjalani operasi. ''Dulu konsumsi makanan sering tanpa sayur dan seadanya. Mungkin karena sibuk bekerja dan stres, dan sering kembung yang awalnya saya pikir itu masuk angin biasa,''tukasnya.

                               www.beritasurabaya.net

KOMPAS.com: RACUN DALAM USUS

"Tubuh memang punya mekanisme pembersihan sendiri yakni melalui buang air besar (BAB). Tapi berapa banyak yang rutin BAB setiap harinya? Lagi pula tidak semua kotoran keluar dari tubuh, sebagian akan menempel di dinding usus besar dan menjadi racun seiring waktu," papar dr.Catherine Tjahjadi, ahli detoksifikasi. Karena itu, menurutnya, proses BAB yang tidak lancar (konstipasi), sama halnya dengan tertimbunnya "sampah" di usus. Bahayanya adalah racun-racun ini bisa  kontak dengan dinding usus dan menyebabkan peradangan.

Di dalam usus besar juga masih terjadi proses penyerapan. "Yang diserap bukan cuma air tapi juga vitamin dan mineral yang masih dibutuhkan tubuh. Tidak ketinggalan toksin-toksin. Sehingga kita akan mengalami autointoksikasi atau keracunan oleh tubuh kita sendiri," imbuh dokter dari Klinik Suisse Jakarta ini. Melalui proses detoks, kotoran yang bertahan dan berkerak di usus besar bisa dikeluarkan

     

Komentar

No Comment

tinggalkan komen

(*) Add text on the image
http://gfn1000.com/